Jumat, 03 Juni 2011

pola kepemimpinan " Pijakan pemimpin masa depan "


 KATA PENGANTAR
          Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tulisan ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada teman-teman seperjuangan  yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan tulisan  ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...

 PENDAHULUAN 
Kehidupan manusia di dunia mempunyai kedudukan sebagai hamba Tuhan YME dan sebagai wakil Tuhan ( pemimpin ) di bumi yang menerima amanat-Nya untuk mengelola  kekayaan alam
Sebagai negara kepulauan dengan masyarakatnya yang ber-bhinneka, negara Indonesia memiliki unsur-unsur kekuatan dan kelemahan. Kekuatannya dan kelemahannya suatu bangsa diantaranya terletak pada sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan Dalam hal ini adalah seorang Pemimpin yang berjiwa kejuangan  pancasila dan UUD 1945 yaitu yang dapat memimpin dan mewujudkan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dapat menyatukan kepulauan dan keanekaragaman masyarakat  dalam satu bangsa dan satu tanah air. Dan dalam mencapai tujuan atau cita-cita nasional.
Pengertian dasar dari sebuah Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan dan memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Pola pola kepemimpinan dilihat dari berbagai macam sumber dan unsur , diantaranya adalah bersumber dari sejarah budaya , agama dan lain-lainnya,berikut ini adalah sebuah pola-pola kepemimpinan:
·         Pola kepemimpinan kerajaan Sunda Purwa sampai kerajaan Sumedanglarang dan keturunannya
·         Pola Kepemimpinan yang layak dipilih dengan kaitan pemimpin dan yang dipimpin 
·         Pola kepemimpinan jaman modern


BAB 1
Pola Kepemimpinan Kerajaan Sunda Purwa sampai Kerajaan Sumedanglarang dan keturunannya
Pola kepemimpinan timbul secara alami dan tidak berbeda dengan pola kepemimpinan jaman sekarang dalam setiap pemukiman dipimpin oleh seorang kepala mukim disebut juga Pupuhu kampung.Dalam membentuk pemimpin berdasarkan kepada ukuran kewibawaan pengertian kewibawaan tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan (power) wewenang (autority),unsur-unsur tersebut saling terkait.Kekuasaan adalah salah satu yang paling utama didalam kehidupn bermasyarakat,kekuasaan menyangkut kepada hal-hal yang sederhana maupun kompleks,oleh karena itu kekuasaan tidak dapat dibagikan kepada semua orang ,maka timbul  makna pokok dari kekuasaan yaitu untuk mempengaruhi orang lain menurut kehendak pemegang kekuasaan.
          Dalam pengertian lain bahwa kekuasaan adalah merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat terhadap kemampuan mereka dengan sekaligus menggunakannya terhadap perlawanan dari orang atau golongan-golongan tertentu.kekuasaan tergantung kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dari pihak-pihak yang menerima pengaruh dengan rela maupun terpaksa.
          Kekuasaan selalu menjelma dalam berbagai bentuk dan sumber seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat,akan tetapi pola-pola yang baru yang muncul  itu selalu bertumpu pada pola umum yaitu bentuk dari sistem kekuasaan yang sesuai dengan adat istiadat dan pola prilaku masyarakat.
          Kekuasaan ( power ) mempunyai arti jika didukung oleh wewenang atau authority yaitu berupa hak untuk mempengaruhi tindakan . wewenang menjadi efektif apabila didukung oleh kekuasaan yang nyata.Kekuasaan terkadang mengandung kekerasan tetapi bukan berarti kekerasan adalah kekuasaan.Jika kekuasaan ini didukung oleh kewibawaan hal ini dapat menimbulkan orang lain segan bukan karena takut.Pemegang kekuasaan yang berwibawa adalah leuleus jeujeur liat tali, laer kandungan, laer  aisan teu cueut kanu hideung , teu ponteng kanu koneng”  artinya pegangan harus lentur seperti joran untuk mancing ,talinya harus  alot,kandungan perempuan diujung kain sebagai kantong jangan terlalu keatas ikatannya,begitu pula kalau menggendong ,agar yang digendong enak bergerak yang menggendong rasa enak,yang hitam maupun yang kuning hal ini diumpamakan kepada perempuan,maksud sebenarnya walaupun bodo atau pinter kaya atau miskin  itu adalah rakyat yang dipimpin tidak boleh di bedakan karena haknya sama.
          Dalam masyarakat Sumedang mengenal pemimpin tidak resmi ,tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan masyarakat Sunda,karena berasal dari sumber yang sama.adanya pemimpin resmi dan pemimpin tidak resmi berasal dari saluran yang berbeda , tetapi dasar kewibawaan dalam pandangan budaya kesumedangan berasal dari sumber yang sama.Kewibawaan dalam pandangan leluhur Sumedang adalah kajian yang mnghasilkan masalah dan tidak dapat dipisahkan dari kultur masyarakat.sumber-sumber kewibawaan berasal dari kesaktian ,titisan ilmu pangaweruh ( ilmu pengetahuan ) dan kepribadian.
Kesaktian
          Kesaktian adalah suatu kekuatan yang luar biasa dan melahirkan kekaguman , kadang kadang sulit dijangkau oleh pikiran logis .hal ini bukan berarti kekebalan ,tetapI kekebalan merupakan bagian dari kesaktian .Menurut pandangan leluhur Sumedang ,bahwa kesaktian bukanlah dongeng – dongeng belaka tetapi  “ elmu nu ngawujud “ atau sesuai yang kongkrit dan manisfestasinya dapat dilihat dengan jelas.
         Kesaktian yang ada dalam diri manusia terdapat dalam kesucian bathinnya ,hal ini selalu berkaitan dengan kehidupan .pada prinsipnya sumber kesaktian terdapat dalam jiwa manusia , yaitu dzat ruh yang diciptakan Tuhan beserta dengan segala kekuatannya . Dzat ruh adalah sumber tenaga gerak , potensi ini diolah secara mantap sehingga menciptakan energi yang luar biasa.Kemanunggalan dzat ruh dengan energi alam semesta melahirkan berbagai macam-macam ajian .
          Sumber energi kesaktian yang terdapat dalam benda-benda ,seperti pusaka keramat,tombak,keris,tongkat, sabuk dan  lainnya, dapat dipahami apabila  dikaitkan dengan religi atau agama asli orang Sunda.Manusia bisa menguasai energi yang ada pada dirinya dan benda benda itu .kongkritisasi  pandangan ini terlihat jelas pada mitos-mitos tradisional ,seperti keris Ki Dukun pusaka kebesaran prabu Gajah Agung,dengan kekuatan gaibnya mampu melindungi Kerajaan Sumedanglarang dari serbuan lawan lawan politiknya .oleh karena itu keris tersebut pada jamannya dijadikan lambang kebesaran Kerajaan Sumedanglarang.
          Pusaka kujang emas yang dimiliki oleh Dalem Sumedang , ketika gunung tampomas hendak meletus , pusaka kujang ditancapkan digunung itu,dengan energi gaibnya mampu mengatasi bencana meletus .Prabu Tadjimalela tokoh mistikus  dengan  ilmu kesaktiannya mapu melakukan khotwah atau tilem ( muncul tenggelam ) .Prabu Guru Adji Putih pendiri kerajaan Tembong Agung dengan ilmu kesaktiannya mampu melakukan penyeberangan kenegri Mekkah hanya menggunakan kekuatan tenaga angin dalam istilah Sunda Rasjleg (khotwah).Patih Agung (panglima perang) kerajaan Sumedanglarang ,Prabu Jaya perkosa yang dikenal dengan sebutan Embah Sayang Hawu dengan ilmu Curuk Aulnya mampu melumpuhkan musuhnya ; Curuk Aul merupakan tongkat Panglima,juga ilmu sangkala bolongnya mampu menembus alam hati manusia dan alam gaib.
          Leluhur Sumedang dalam memperoleh ilmu kesaktian pada umumnya melakukan semedi ( tafakur ) atau tirakat proses ini berhubungan dengan gagasan dan kesucian .Mengenai tanda tanda kesucian seseorang dapat digolongkan pertama,keajaiban sebagai kesaktian dirinya dan tidak dimiliki oleh orang lain.Kedua orang yang sedang menjalani tirakat dengan menahan hawa nafsu dalam bentuk apapun.Hawa nafsu dikendalikan agar tidak menguasai dirinya .penguasaan nafsu merupakan ciri dari kesaktian seseorang.Pemimpin yang memiliki tingkat kesaktian adalah “ saciduh metu saucap nyata ,waspada permana tingal, weruh sadurung winara “.
Terah atau Keturunan
          Seseorang yang lahir dari pemimpin yang baik dipandang memiliki “ titisan “ sebagai dasar modal kepemimpinan.Hal tersebut dianggap telah mewariskan darah kepemimpinan . masalah ini dapat dilihat dari ungkapan “ teng manuk teng anak merak kukuncungan “ maknanya menunjukan betapa pentingnya sifat , watak dan kebaikan-kebaikan pewaris kepemimpinan.
          Titisan pada hakekatnya merupakan gumpalan dari sifat dan watak yang vital dalam kepemimpinan . titisan atau faktor keturunan tidak mengenal kaya atau miskin ,diantara keduanya mampu menguasai . Dari pandangan ini bahwa kewibawaan erat kaitannya dengan faktor darah keturunan (genetika).Kesaktian yang diwariskan oleh para pemimpin sumedang tidak hanya dalam bentuk kekebalan ,melainkan kesaktian yang dibentuk atas dasar kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam dirinya , oleh karena jiwa atau ruh memiliki potensi sebagai sumber kesaktian.
Elmu Pangaweruh
          Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang berhubungan dengan kewibawaan , sifat maupun isinya merupakan suatu kekuatan yang bermanfaat langsung dan dapat menunjang terhadap pelaksanaan nilai-nilai agama dan adat istiadat.ilmu yang dimiliki akan dapat mencerminkan keadilan dan kemakmuran.masyarakat bergantung kepada pemimpin yang adil paramarta .Ilmu pengetahuan agama belum tentu menjadi sumber  kewibawaan jika tidak disertai kesucian demikian pula ilmu pengetahuan jika tidak disertai oleh martabat dan pembawaan diri yang disukai masyarakat tidak akan dapat menciptakan kewibawaan.
          Jauh sebelum kedatangan islam , “elmu jampe pamake” pada umumnya diperankan oleh para pemuka adat atau dukun.oleh karena itu ilmu yang diperankan tidak lepas dari praktek-praktek dukun dan kesaktian .periode setelah agama islam datang , ilmu tersebut banyak diperankan oleh para pemuka agama atau kiai ( ulama ). Mereka bukan hanya ahli mesjid semata tetapi kiai atau ulama sebagai ahli pikir ,budayawan seniman, dan kadang – kadang menjadi panglima perang.
          Hal ini tercermin dalam pandangan masyarakat “ guru kudu di gugu jeung ditiru ,guru tempat elmu ,ulama tempat nanya “ itulah sebagai proses keilmuan didalam memperoleh tingkat nalar yang lebih tinggi,maka ia menjadi orang yang berwibawa (kharismatik) dan cukup berpengaruh terhadap masyarakat . Hakekatnya kesaktian dalam wujud ilmu bersumber pada ilmu itu sendiri.
Kepribadian
          Pembinaan kesaktian adalah menekan hawa nafsu dalam bentuk apapun .Kepribadian sebagian besar bersumber kepada suatu hal yang suci ,sifat sifat ini bersumber pada pola pola kepemimpinan ,sudah dapat dipastikan bahwa pemimpin harus memiliki keunggulan tertentu.
Seukeut Pikiran
          Tajam dalam menyikapi persoalan-persoalan, baik masalah sosial ,politik,ekonomi,budaya,dan lainlain.potensi ini menunjukan bahwa seorang pemimpin diharuskan berfikir konstruktif dan integrity ,setiap gagasan benar menurut aturan Gusti  ,hukum pemerintah sesuai dengan aturan adat istiadat masyarakat.
Seukeut Rasa
          Memiliki ketajaman rasa sosial yang tinggi berpijak diatas landasan kearifan dalam setiap hal ,berjiwa besar dalam mengatasi masalah yang timbul . Perasaan ( sir ) merupakan dzat ruh yang menciptakan kekuatan gerak jiwa dalam memerankan tugas tugas sebagai pemimpin ( Khalifah ) perilaku dan perbuatan atau tindakan yang seadil-adilnya tidak akan pernah ada dalam jiwa pemimpin yang tumpul perasaannya.
Seukeut Pangrungu
         Menunjukan pentingnya mendengar atau merespon pendapat orang lain secara bijaksana.maknanya harus menerima saran dan kritik baik itu halus maupun menyengat .Tajam pendengaran akan memandang bahwa saran dan kritik itu sebagai pelengkap atas segala kekurangan yang ada , sebagaimana tersirat dalam wangsit Prabu Tadjimalela “ tanda-tanda kehancuran nagara ceuli jeung panto hate pemimpin kalimpud ku pepedut napsu .yang artinya : tanda-tanda kehancuran negara kuping dan pintu hati pemimpin tertutup oleh kabut/asap nafsu .Pemimpin yang menutup diri menunjukan pemimpin yang menganggap dirinya telah sempurna.Sesungguhnya kebesaran jiwa seseorang pemimpin adalah selalu mengusahakan kebenaran dan kebaikan-kebaikan sejati.
Seukeut Panempo
          Tajamnya penglihatan seorang pemimpin , kontak mata dengan yang dilihat bagi seorang pemimpin adalah merupakan sumber inspirasi yang akan menuturkan kekayaan ide-idenya.sentuhan indrawi dengan keseluruhan penglihatannya terhadap realita yang ada adalah sebagai penggerak pikiran jiwa yang disalurkan kedalam pemikiran-pemikiran
baru.Tanpa didukung oleh indra penglihatan yang sempurna,sedikit gagasan yang akan dikembangkan.
Seukeut Letah
        
           Ketajaman lidah seorang pemimpin merupakan salah satu sumber kewibawaan . lidah seorang pemimpin yang memiliki tingkat kesaktian adalah lebih tajam daripada pedang.Tajamnya lidah pemimpin ditentukan oleh keluwesan dan kejujuran .Hal ini diposisikan dalam martabat yang lebih tinggi “tara goroh, tara bohong ,tara linyok,tara basilat letah”,artinya tidak gampang memfitnah dan mengumbar janji ,tidak bohong,tidak bersilat lidah ( tidak saling melempar kesalahan ).
Adil Jeung Jujur
          Setiap tindakan seorang pemimpin harus selalu mencerminkan nilai-nilai kearifan dan kejujuran.Keadilan lebih tampak dalam setiap mengambil keputusan .dalam mengatasi sengketa apapun biasanya menempuh cara cara musyawarah dan mufakat yang damai,bukan kompromi.Penyelesaian setiap perkara dengan adil bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dalam masyarakat dan tidak membeda-bedakan harkat dan martabat.
Leber Wawanen
          Keberanian seorang  pemimpin merupakan dambaan masyarakat.Sifat keberanian telah diturunkan sejak kecil dalam upacara menurunkan bayi pada umur 40 hari kebumi,termasuk upacara ritual lainnya dalam mengajarkan keberanian.kewibawaan seorang pemimpin bertambah bila memiliki keberanian,contohnya seorang pemimpin menolak subsidi dan honorarium karena dipotong tanpa alasan yang jelas.Sifat semacam ini membawa resiko ,ia dapat diberhentikan dari jabatannya.ia berani menentang hakim karena tidak adil dalam memutuskan hukum yang seadil-adilnya.Berani karena benar akan menambah derajat kewibawaan.
Mere Maweh atau Dermawam
          Seorang yang hidup kaya raya belum tentu memiliki pengaruh dan berwibawa karena kekayaannya ,jika ia tidak memiliki sifat dermawan.Pandangan ini bersumber  pada penghayatan masyarakat rendah.Hartawan atau saudagar kaya raya tempat menggadaikan barang dan meminjam uang jika keadaan ini dikaitkan dengan salah satu aspek kewibawaan ,kesuburan dan kemakmuran yang ada pada dirinya menimbulkan ketergantungan masyarakat ,tidak lain untuk memperoleh kesuburan dari pemiliknya. Kesuburan atau kemakmuran seseorang itu dapat jadi pemimpin sebagai pedagang.

Ramah Tamah
          Ramah tamah adalah sifat lemah lembut dalam memberikan nasehat maupun teguran kepada pengikutnya ,tidak pernah menyinggung perasaan .Dalam pandangan masyarakat sumedang adalah “tata jeung semu someah ka semah balabah kasasama” Pandangan ini menunjukan bahwa sumber kewibawaan tersebut meliputi beberapa aspek.Dalam pandangan masyarakat modern tidak akan jauh berbeda hanya dibedakan dengan rumusan semata.
          Seorang pemimpin dalam strata sosial adalah seorang yang telah mengalami proses seleksi sosial,ia dianggap menonjol karena memiliki kemampuan-kemampuan tertentu dan mewakili (representatif) dari pandangan kelompok masyarakat tertentu,sehingga pada saat yang sama ia juga merupakan figur dari nilai-nilai dalam sistem sosial politik yang diembannya.
          Tanggung jawab seorang pemimpin adalah sangat berat ,juga bertanggung jawab secara sosial politik sangat besar karena memiliki pengaruh yang luas terhadap masyarakat ,pemimpin yang berwibawa adalah pemimpin yang bijak dan mampu menjaga integritas sampai akhir hayatnya .integritas seorang melahirkan pencitraan ditengah-tengah koleganya ,maupun masyarakat luas.oleh karena integritas adalah gambaran yang utuh dari sebuah kepribadian.
          Kestabilan jiwa (stabilitas moral) pada hakekatnya merupakan kekuatan ruhaniah yang dimiliki oleh seorang pemimpin dan ia merupakan pondasi atau asas dari sebuah kepribadian Falsafah dan pola kepemimpinan yang telah ditancapkan oleh para pemimpin Sumedang terdahulu , terangkum dalam jiwa generasi pemimpin berikutnya.mereka itu telah menghadapi uji coba dalam jeram kehidupan,tendensi moralitasnya tergambar jelas dan telah terekam dalam sejarah pemimpin Sumedang.

BAB 2
Pola Kepemimpinan yang layak dipilih dan kaitan pemimpin dengan yang dipimpin
         Dalam PILKADA dan PEMILU yang lalu ,masyarakat kita melihat dan mendengar tokoh-tokoh parpol menyampaikan program-program mereka dalam mencari dukungan .Masyarakat dipersilahkan menilai siapa diantara mereka yang paling wajar dipilih.Al-Qur’an memberi  petunjuk secara tersurat atau tersirat dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia ,termasuk upaya menjawab “siapakah yang layak kita pilih”.
          Dari celah ayat –ayat Al-Qur’an ditemukan paling sedikit dua sifat pokok yang harus disandang oleh seorang yang memikul suatu jabatan yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat.Kedua hal itu hendaknya diperhatikan dalam menentukan pilihan.
“sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat lagi terpercaya “demikian ucapan putri nabi Syuaib yang dibenarkan dan diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al- Qashash ayat 26.
           Konsideran pengangkatan nabi Yusuf AS sebagai kepala badan logistic kerajaan mesir yang disampaikan oleh rajanya dan diabadikan pula oleh al-qur’an adalah “sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah seorang yang kuat lagi terpercaya , Al-Qur’an surat Yusuf ( QS 12 : 54 ).
Ketika Abu Bakar r.a. menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ketua panitia pengumpulan Mushaf, alasannyapun tidak jauh berbeda  : “ engkau seorang pemuda (kuat lagi bersemangat) dan telah dipercaya oleh rasul menulis wahyu , “ Bahkan Allah SWT memilh Jibril sebagai pembawa wahyunya ,antara lain karena Malaikat ini memiliki sifat kuat lagi terpercaya (baca QS 81 : ayat 19 – 21 ).
          Salah satu arti amanat menurut rosulullah adalah kemampuan atau keahlian dalam jabatan yang akan dipangku : “amanah terabaikan dan kehancuran akan tiba ,bila jabatan diserahkan kepada yang tidak mampu ,” sabda Nabi.
Sahabat  Abu Dzar pernah dinasehati oleh nabi SAW , “ Wahai Abu Dzar aku melihat engkau lemah,aku suka untukmu apa suka untuk diriku ,Karena itu jangan memimpin (walau) dua orang dan jangan juga menjadi wali bagi harta anak yatim”.
“apabila amanat diabaikan maka nantikanlah kiamat (kehancuran) mengabaikan adalah menyerahkan tanggung jawab seseorang yang tidak wajar memikulnya “ demikianlah salah satu jabaran arti amanat.
          Tidak mudah terhimpun dalam diri seseorang kedua sifat tersebut secara sempurna ,tetapi walaupun harus memilih ,maka pilihlah yang paling sedikit kekurangannya,dan lakukan pilihan terbaik .Ketika Imam Ahmad Ibnu Hambal ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin seorang pasukan ,yang pertama kuat tapi bergelimang akan dosa , dan yang kedua baik keagamaannya namun lemah , beliau menjawab : “ orang pertama dosanya dipikul sendiri sedangkan kekuatannya mendukung kepentingan umat,dan orang kedua keberagamaannya untuk dirinya , sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dipimpin “ inilah pertimbangan dalam-dalam menetapkan pilihan.
Anda boleh menetapkan pertimbangan anda ,tapi ingat lah sabda Rasul “siapa yang mengangkat seseorang untuk satu jabatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat sedangkan dia mengetahui ada yang lebih tepat ,maka sesungguhnya ia telah mengkhianati  Allah ,Rasul ,dan kaum muslim.
           Kaitan pemimpin dengan yang dipimpin ,Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai salah seorang yang sangat fasih dan indah tutur kata bahasanya.kemampuan menyampaikan ungkapan yang sarat makna dalam kalimat-kalimat yang sangat singkat ,merupakan keistimewaan tersendiri atau apa yang diistilahkan dalam bahasa hadist dengan Jawami al-Kalim ,sebagai contoh adalah ungkapan beliau seperti al-din al- mu amalah ( agama adalah keserasian interaksi ) dan ia dharar wa la dhirar ( tidak dibenarkan menggangu dan -       diganggu ).
Salah satu dari jawami ‘ al-kalim yang akan kita bicarakan adalah sabda beliau yang mengisyaratkan tentang pengangkatan pemimpin ,atau  - katakanlah- berbicara tentang pilkada dan pemilu . “ Kama takununa yuwalla ‘alaikum ( bagaimana keadaan kalian demikian pula ditetapkan penguasa atas kalian “, sabda Nabi.
          Kalimat yang sangat singkat diatas dapat mengandung beberapa makna. Ia dapat berarti bahwa seorang  penguasa atau pemimpin adalah cerminan dari keadaan masyarakatnya.pemimpin atau penguasa yang baik adalah dia yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya , sedangkan masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka.
            Ungkapan nabi diatas dapat juga berarti suatu pesan untuk tidak tergesa-gesa menyalahkan terdahulu pemimpin yang menyeleweng ,durhaka atau membangkang,karena pada hakekatnya yang bersalah adalah masyarakat pemilih itu sendiri .bukankah pemimpin atau penguasa adalah cerminan dari keadaan masyarakat itu sendiri ?  “sebagaimana keadaan kalian demikian pula ditetapkan  penguasa atas kalian”.
            Memperhatikan hal tersebut diatas ,Bung Karno pernah menghimbau untuk rakyat jangan sekali-kali memilih pemimpin yang salah ,dan jangan sekali-kali salah memilih pemimpin.perhatikanlah calon pemimpin itu ,perjuangannya untuk bangsa dan Negara atau bukan,bagaimana pendidikan,budaya,adat istiadat juga moralnya termasuk agamanya ? ( Buku Dibawah Bendera Revolusi  jilid I ).
             Masyarakat yang enggan menegur atau mengoreksi pimpinannya atau menyanjungnya secara berlebihan pada hakekatnya telah menanam benih keangkuhan dan kebejatan pada diri pemimpinnya , walaupun padamulanya sang pemimpin adalah seorang yang baik.demikian peranan masyarakat dalam menentukan pimpinannya dan demikian itu sebagian dari kandungan hadist diatas.
             Dari sini terlihat pentingnya peranan koreksi sosial atau dalam bahasa agama ,”amar ma’ruf nahi mungkar “. Dan dari sini pula dapat dipahami  mengapa Nabi SAW ,menekankan pentingnya mengangkat pemimpin walaupun yang dipimpin hanya dua orang bahkan walaupun mereka dalam perjalanan ,sebagaimana sabda Nabi “ apabila ada orang bepergian ,maka hendaklah mereka memilih salah seorang diantaranya sebagai pemimpin “ juga sabda Rasul SAW : Barang siapa yang memilih seseorang sedangkan ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih wajar dari pada yang dipilihnya ,maka ia telah mengkhianati Allah , Rasul  dan amanat kaum muslim.

BAB 3
Pola Kepemimpinan di jaman modern
1.Tugas pimpinan
  • ·         Mengorganisasi diri sendiri
  • ·         Mengorganisasi dan memimpin perjuangan massa mencapai kepentingannya
2.Aktifitas pimpinan
  • ·         Masuk dalam komunitas massa , berintegrasi dalam  kehidupannya dan beradaptasi dengan adat  istiadat serta kebudayaannya menuju ke peningkatan perkembangannya
  • ·         Membuka mata massa agar tahu keadaan
  • ·         Menanam pengertian kepada massa agar tahu keadaan
  • ·         Menanam pengertian kepada massa agar sadar akan dirinya akan klas dan kepentingannya
  • ·         Membangkitkan semangat massa agar berani bertindak mencapai kepentingannya
  • ·         Mengorganisasi dan memimpin tindakan/aksi/perjuangan massa mencapai kepentingannya
3.Sifat pimpinan
Harus sabar , ulet dan teliti
  • ·         Sabar dalam mengikuti tingkat perkembangannya
  • ·         Ulet dalam mengatasi soal /problem mencari jalan keluar dan pemecahannya
  • ·         Teliti dalam mengorganisasi / menkonsolidasi sarana peningkatan perkembangan 

4.praktek pimpinan
Melaksanakan garis massa
  • ·         Mengerti kepentingan massa
  • ·         Mendengarkan suara massa
  • ·         Memperhatikan perasaan massa
  • ·         Mempelajari dan menyimpulkan pikiran dan kehendak massa
  • ·         Memimpin dan mengarahkan kebangkitan aksi/ tindakan /perjuangan/kehendak massa
5.Langgam kerja pimpinan
  • ·         Memadukan teori dengan praktek
  • ·         Selalu berhubungan erat dengan massa
  • ·         Melakukan kritik-otokritik dan evaluasi kerja
6.Metode kepemimpinan
  • ·         Menjabarkan program /garis umum dalam tuntutan /petunjuk kongkret dan memadukannya dengan praktek
  • ·         Memadukan kepemimpinan kolektif dengan tanggung jawab individu/perorangan
  • ·         Memadukan kearifan dan kualitas kepemimpinan kolektif  dengan peningkatan kualitas individu/perorangan anggota kolektif
  • ·         Melaksanakan garis massa : dari massa oleh massa kembali kepada massa ( dari ,oleh,untuk )
  • ·         Mengintegrasikan / memadukan pimpinan dengan massa dan dengan melaksanakan praktek atasan memberi contoh kepada bawahan
7.Moral pimpinan
  • ·         Teguh dalam pendirian klasnya
  • ·         Setia kepada kepentingan klasnya
  • ·         Jelas pandangan klasnya
  • ·         Tegas sikap klasnya
  • ·         Tegak dalam membawa dan melaksanakan garis klasnya
  • ·         Bertanggung jawab atas tindakannya dan perjuangan klasnya
  • ·         Berdiri paling depan dalam penderitaan,dan berdiri paling belakang dalam kebahagiaan / menerima hasil perjuangan klasnya
8.Cara hidup pimpinan
Sederhana , jujur rajin, dan disiplin
  • ·         Sederhana dalam hidup dan kehidupan
  • ·         Jujur dalam tindakan
  • ·         Rajin dalam aktifitas / kegiatan
  • ·         Disiplin dalam kata / ucapan dan pelaksanaan keputusannya
9.Jiwa pemimpin
Meresap empat kuat, diantaranya
  •          Kuat mencintai dan setia kawan
  •          Kuat membenci musuh  (contoh malaysia selalu meledek)
  •         Kuat pahit = tahan menderita ,seperti nabi Muhammad SAW sampai ditimpukin batu dll, ancaman : Bung karno diancam untuk dibunuh oleh penjajah sampai 13 tahun dipenjara, begitu pula oleh bangsanya sendiri yg dimerdekakan sampai wafatnya
  •         Kuat manis : tidak tenggelam dalam kenikmatan / kemewahan hidup dan pada jabatan/kedudukan terhormat dan membahagiakan
10. kehidupan Pimpinan
Melekat tiga baik, yaitu :
  • ·         Baik bekerja
  • ·         Baik belajar
  • ·         Baik moral
11. Kesigapan pemimpin
Selalu dua siap, yaitu
  • ·         Siap menghadapi  tantangan dan keberhasilan mengatasinya
  • ·         Siap menerima kegagalan mencapai tujuan / harapan yang selalu diharapkan

PENUTUP
               Dalam mengisi kemerdekaan dan perkembangan teknologi yang makin canggih, serta perkembangan perikehidupan yang makin komplek, perlu dicari, dibina dan diarahkan kriteria kepemimpinan yang dapat melanjutkan perjuangan untuk mengisi kemerdakaan bangsa Indonesia dengan pembangunan yang makin meningkat dan bermutu. Untuk memunculkan pemimpin-pemimpin unggul Bangsa Indonesia, perlu diuji, dilatih, dibina , dicoba , didewasakan dan dikembangkan kepemimpinan nya. Pemuda-pemudi yang berwawasan jatidiri bangsa, cinta tanah air, patriotisme , pantang menyerah, berjiwa kejuangan Pancasila dan UUD 1945 serta watak kokoh kuat, perlu ditemukan, dan dipersiapkan. Pemuda-pemudi yang ber-Citra Indonesia, bercitra khas Ibu pertiwi.
Demikianlah makalah yang saya tulis tentang sebuah pola kepemimpinan dan sebagai referensi pijakan seorang pemimpin di masa depan, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua
 
Daftar pustaka
Dasar / sumber tulisan ini diambil dari :
1.      Kaderisasi bangsa  DPP PNI jl. Matraman Raya Jakarta pada tahun 1954
2.      Departemen Agama RI Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Pusat Penelitian dan Pengembangan LEKTUR Agama jl. Kramat Raya 85 jakarta pusat hal:hasil pentashihan Al-Qur’an 1978
3.      Buku Lentera Al-Qur’an “membumikan” Al-Qur’an,karya tulisan seorang pakar tafsir terkemuka Indonesia Dr. M. Quraish Shihab 1994
4.      Dibawah Bendera Revolusi perjuangan bung karno Jilid 1 dan 2 cetakan 1964

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar